Membaca adalah sumber pengetahuan. Itu adalah slogan lama
yang sering lihat di tembok-tembok sekolah dan pesantren. Kegiatan membaca
sudah tidak asing dan didengar oleh mahasiswa, namun kerap
kali dikatakan asing bagi pribadi seseorang yang tidak suka bergaya
dengan buku. Karena malas, sibuk, atau tidak
tahu harus membaca apa. Namun,
dapat dipahami membaca memiliki entitas dan
eksistensi tersendiri dalam segi historisnya, yaitu dimulai dari perjalanan
seorang Rasul yang diutus untuk membimbing kita dari perbuatan yang madzmumah
menuju perbuatan yang mahmudah.
Tertera
dalam surah Al-alaq dari ayat satu sampai lima.
Rasulullah saat berada di Gua hira’ merasakan tubuhnya bergetar hebat, saat Jibril
membawa ayat-ayat tersebut. Bagaimana tidak? Rasulullah yang tidak bisa membaca
dan menulis, tiba-tiba dipaksa untuk terus membaca ayat-ayat itu sampai Jibril
memerintahkannya 3 kali.
Hal ini merupakan kejadian hebat yang pernah diketahui. Bagaimana seorang yang awam dituntut untuk
membaca sedang dia huruf saja tidak
tahu. Tapi, Allah mengirim firmannya tidak dengan tanpa sebab. Rasullah mampu
membaca dan memahami hingga kini menjadi suri tauladan bagi
pengikutnya.
Kutipan ayat pertama surah Al’alaq, dengan
terjemahnya, “bacalah dengan menyebut tuhanmu yang menciptakan”. jika terpikir secara mendalam, dapat melatih intuisi hingga
mengolah pertanyaan-pertanyaan. Misalnya:
sebenarnya siapa sih, tuhan kita? Apa yang harus kita baca? Apa
yang harus kita pahami?
Dalam kajian ayat-ayat tersebut, Tuhan siapa yang dimaksud? Yaitu Tuhan yang menciptakan manusia dari
segumpal darah, yang maha pemurah, Tuhan yang mengajari manusia
dengan perantaran kalam; Tuhan yang mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya. Apa yang harus kita baca? Alqur’an. Apa yang harus kita pahami? Ayat-ayat Allah.
Makna lima ayat dari surah Al-Alaq di atas diartikan, membaca merupakan sebuah kewajiban bagi setiap manusia, khususnya umat Islam, karena dari membaca kita akan
lebih mengenal esensi ketuhanan. Tidak jarang bagi sebagian orang
mengungkapkan; bahwasannya membaca kegiatan sunnah atau bahkan mubah, sehingga
tidak jarang pula kegiatan membaca tersebut ditinggalkan secara perlahan. Maka
jika demikian, presepsi yang mengkultur di sebagian orang tersebut kerap
megundang perselisihan dan kesalahpahaman dari objek/peristiwa apapun itu, yang
disebabkan sikap egoisme manusia yang tidak terkendali.
Mengenai apa yang harus kita baca, yaitu; Alqur’an.
Mengapa demikian? Karena Alqur’an itu pokok dari segalanya. Alqur’an tanpa tinulis iso diwoco. syair KH.
Abdurrahman Wahid ini menimbulkan banyak pertanyaan. Dan pada akhirnya mendapatkan
jawabannya. Alqur’an merupakan firman Allah
SWT, dalam bentuk berbahasa arab yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW, untuk dipahami isinya dan disampaikan kepada
umatnya, dengan cara mutawatir ditulis dalam mushaf
yang dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas. Tetapi
makna secara definitif itu tidak cukup
untuk menjadikan manusia bertahan hidup. Karena, mengetahui makna tanpa
perenungan apa gunanya. Toh, sebenarnya Alqur’an itu tidak hanya
bertuliskan bahasa arab saja, bahasa-bahasa alam juga termasuk kumpulan
ayat-ayat Allah. Kita juga bisa menganalogikan ayat-ayat Allah dengan makna:
bahwa ayat-ayat Allah termasuk realitas-realitas yang kita jalani, karena
setiap perjalanan hidup kita mengandung, pelajaran, peringatan, dan bahkan
petunjuk. Afala ta’qilun, Afalaa tadzakkarun.
Mungkin sampai ini tulisan masih abstrak, mengenai apa
yang harus kita baca? Apakah hanya Al-qur’an saja? buku-buku para intelektualis
boleh tidak kita kaji? membaca pada hakikatnya terbagi menjadi dua kategori
yakni; membaca hal-hal yang tersurat dan membaca hal-hal yang tersirat. Misal,
yang tersurat: mushaf, buku-buku bahkan kitab-kitab boleh kita kaji. Misal yang
tersirat: kita juga bisa mengkaji kehidupan sederhana abang jualan bakso, kita
jadikan pelajaran hidup. Dan semuanya secara universalnya, kita sedang mengkaji
Al’Qur’an/firman-firman Allah.
Membaca berarti menghidupkan Alqur’an. Jika kita memaknai
membaca se-universal mengkaji Alqur’an, maka implementasinya harus universal
pula. Kegiatan membaca harus bisa melahirkan sebuah kontruksi dalam manajemen
akhlaq kepada sesama manusia, apalagi kepada Allah. Kegiatan membaca tidak boleh menjadi kegiatan yang
statis yang hanya merekrut pengertian dan pemahaman yang kemudian dimuntahkan
sebagai disiplin ilmu untuk berdebat dengan orang.
Manusia hanyalah makhluq yang lemah dan bodoh. Allah
menganugerahkan pemahaman kepada manusia, agar pemahamannya dapat menjadikan
manusia lebih mengenal Tuhan-Nya. Maka sungguh indah jika implementasi makna
membaca yang universal tersebut, dapat membangun peradaban yang penuh dengan
kedamaian, ketenangan dalam menjalani hidup. Juga menjadi jembatan untuk meraih
kebahagiaan yang hakiki untuk mencapai puncak kema’rifatan kepada-Nya.
Maka urgensi membaca dalam kaca mata islam sangatlah
penting. Mengingat Alqur’an merupakan sebuah warisan
terbesar Nabi Muhammad kepada kita agar senantiasa kita baca dan kita
implementasikan.
Setelah membaca tulisan ini, tanamkan aktifitas membaca. Setiap detik; Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan.
Penulis : Marsyidza Alawiya | Editor : Hosni
0 Komentar