Ada adagium, ”senior ibarat orang tua yang seharusnya mengayomi anaknya.” Apakah adagium tersebut benar adanya?, barangkali pertanyaan inilah yang perlu kita selesaikan.
Senior, begitulah istilah yang sering kita dengar
dalam organisasi, baik intra maupun ekstra kampus. Sejatinya, kader (istilah
sandingan dari istilah senior) seharusnya diayomi dan di perhatikan. Bukan
sebaliknya, dijadikan wadah tumpahan berbagai kritikan. Hal tersebut, menjadi
perusak mental dan menjadi penyakit fluktuatif menular terhadap generasi
berikutnya.
Istilah senior sudah menjadi tradisi yang mengakar,
dan sulit dihilangkan di kalangan mahasiswa. Seharusnya, senior selalu
memberikan motivasi atau arahan ’lembut’ terhadap kadernya, agar supaya tali
kasih sayang tetap terjaga dan terpelihara. Sebagai catatan, tidak semua
perkataan senior benar menurut orang lain. Karena, setiap manusia mempunyai
paradigma berbeda dalam memandang kebenaran.
Bagi penulis, istilah senior layak digunakan. Tetapi,
pengunaan dan penempatannya tidak tepat. Jika penulis ditanyakan, sepakat atau
tidak dengan istilah senior, tentunya penulis akan mengatakan tidak. Karena di
mata penulis, yang ada hanyalah, yang lebih tua dihormati, dan yang lebih muda
disayangi.
Seakan-akan kasih sayang dan rasa hormat kepada yang
lebih tua—lebih muda kini mulai hilang, digeser oleh keberadaan istilah
senioritas. Mengapa demikian, karena istilah tersebut identik dengan ’sok’—merasa bahwa dirinya paling benar.
Dan menuntut semua kader untuk mengikutinya. Sikap yang ujung-ujungnya anti
kritik dan menista kader.
Contoh konkritnya, ketika kita berpapasan dengan
senior, tanpa disapa terlebih dahulu, mungkin senior tidak akan menyapa. ’sok cuek,’ seolah-olah tak
memperdulikan dan tak membutuhkan. Padahal sebetulnya, kader selalu ingin
diperhatikan, bukan dimarjinalkan tanpa arah yang pasti.
Senior selalu mencari celah, sebagai bahan kritikan
atas kesalahan kader, selalu saja disalahkan, tak ada dukungan. Seharusnya
kader, di didik kearah yang baik, lewat bimbingan senior. Jika hanya ingin
mencari kesalahan seseorang, kita juga bisa, dan mengkritik habis-habisan.
Senior bukan malaikat tanpa salah. Selama ini kita takut untuk mengkritik,
karna mungkin dibatasi oleh rasa hormat.
Berpijak dari paparan di atas, tulisan ini didekontruksi
oleh pembuktian konkrit, bukan sekedar wacana. Untuk itu, kita perlu mendorong
dan mengevaluasi diri kita, untuk lebih berupaya menjadi manusia tunggal yang
berharga, tanpa senioritas.

0 Komentar