DEKADENSI LITERASI MAHASISWA

Mahasiswa terkenal dengan nama agen of change, diketahui akan memberikan dampak yang besar terhadap bangsa dan negara, ide ide brilian dan pemikiran kritis menjadi ciri khas seorang mahasiswa. tak heran jika banyak orang memberikan harapan besar padanya sebagai penerus tonggak estafet perjuangan tanah air.


Dengan bentuk perkembangan zaman sekarang yang serba instan, banyak kalangan mahasiswa tidak lepas dari pengaruh perkembangan zaman, dari perkembangan ini teknologi sudah mengubah kehidupan mahasiswa, yang dulunya mahasiswa rajin membaca buku, berubah menjadi mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk main game, menonton tv dan aktif di sosial media, tak dapat di pungkiri godaan dunia maya menjadikan buku kurang di minati, bahkan semua tugas dapat di selesaikan dengan Google. 



Banyak-nya problem yang terjadi dikalangan mahasiswa, membuat mahasiswa perlahan melupakan tradisi-tradisi yang semestinya harus dipertahankan, tradisi seperti membaca, berdiskusi dan menulis yang di harapkan dapat menumbuhkan nalar kritis menjadi terhambat dengan perkembangan teknologi.


Dalam hal ini, sebuah pertanda bahwa era digital dapat mempengaruhi mahasiswa, lalu apa dampak yang akan terjadi? Mahasiswa menjadi kecanduan dengan dunia digital, sehingga mahasiswa tidak bisa kreatif dalam menangkap informasi, karena dengan media digital semua di peroleh dengan mudah. Baca Juga : Membaca Menghidupkan Al-Qur'an


Pada dasarnya, lingkungan perguruan tinggi merupakan tempat yang strategis untuk mengembangkan budaya literasi, namun pada nyatanya, budaya tersebut belum bisa diwujutkan secara nyata, karena minat baca di kalangan mahasiswa masih rendah, kenyataan demikian di dukung oleh beberapa data berikut:


Dilansir dari KEMKOMINFO (Kementrian Komunikasi dan Informasi), “UNESCO (United Nation Educational Scientific and Cultural Organization) Menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, Artinya minat baca di Indonesia sangat rendah. Menurut UNESCO, minat baca Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, Cuma 1 orang yang rajin membaca.


Sedangkan dalam riset Perpusnas RI tahun 2017, orang Indonesia hanya memiliki durasi waktu membaca per hari rata-rata hanya 30-50 menit, kurang dari sejam. Sedangkan jumlah buku yang di baca tuntas per tahun rata-rata hanya 5-9 buku, berbeda dengan di negara maju yang rata-rata menghabiskan waktu membaca 6-8 jam, Kondisi tentu jauh di bawah standar UNESCO yang menyankan durasi waktu membaca tiap orang 4-6 jam per hari.

Dari beberapa penelitian di atas membuktikan besarnya pengaruh media dalam kehidupan bermasyarakat khususnya mahasiswa, salah satunya adalah perubahan pola pikir yang cenderung mengumbar self disclosure di media sosial, serta kecenderungan menjadi orang yang konsumtif.


Kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan, semestimya, suburnya budaya membaca dan menulis menjadi acuan kualitas mahasiswa, ternyata terjadi kelunturan dikarenakan perkembangan zaman yang gagal diantisipasi, cita-cita menjadi agen of change hanya khayalan semata, bahkan kenginan membentuk suatu perubahan mustahil untuk diwujudkan.


Seharusnya seorang mahasiswa, sebagai orang yang mempunyai daya pikir yang kritis dan pengetahuan yang luas, dapat memfilter keadaan tersebut agar tidak merugikan mereka, artinya mahasiswa dapat menimbang baik dan buruknya dalam memanfaatkan teknologi, karena teknologi ibaratkan pisau yang bermata dua, selain membawa manfaat ia juga dapat memberikan mudarat.


Dalam menangani hal demikian kita bisa melakukannya dengan berbagai hal, misal dari diri kita sendiri, di mulai dengan menanamkan semangat membaca dan menulis, melakukan kampanye budaya literasi di kampus, pameran buku dan kegiatan lainnya. karena pada dasarnya mahasiswa harus mempunyai benteng literasi untuk menghadapi tantangan zaman.


Salah satu tokoh dunia, Agustinus berkata, ”Dunia adalah Buku”, dari perkataan tersebut sudah jelas bahwa buku mempunyai pengaruh untuk memajukan sebuah bangsa, Jika dulu para pemuda berperan sebagai pejuang kemerdekaan, maka sekarang pemuda harus berperan dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjadi agen perubahan untuk mengatasi permasalahan negara yang hari demi hari seperti oligarki.

Padahal dalam beberapa waktu terakhir, dapat kita temukan dalam kehidupan sehari hari bahwa kesadaran yang kita rasakan semakin saja di perkeruh oleh keadaan, ruang lingkup


Penulis : Fahri Al Khozaini | Editor : Hosni

Posting Komentar

0 Komentar