Tanyakan Saja Kepala Desa

Di atas lemari kayu itu, seorang lelaki berbaring sembari menyayikan lagu Selimut Tetangga. Tatapanya kosong, entah apa yang berkutat di pikirannya. Barangkali sedang memutar kenangan, saat di bawah rindang cemara menanti langit meruntuhkan pesona bintang-bintang.
 “Pokoknya kalau bisa tahun ini kamu harus kuliah.” Tegas Ibu serambi membenarkan letak piring di rak.
 “Ah ibu, kadang-kadang juga. Emang kalau Sonang sudah pintar mau jadi apa?” Timpalku.
 “Anak jaman sekarang sukanya ngelawan kalau dibilangin sama orang tua.” Tambah perempuan itu.
 “Toh lagian sekolah sampai pulau jawa sana tetap aja kerjaannya ke sawah,” sahut Bonang dengan tatapan tertuju ke langit atap. Saat itu hujan mengguyur, seringkali air menyucur seketika.
 “Evan saja contohnya bu. Minggu kemaren sudah dua kali lamar kerja. Kantor desa sama kantor bank, sampai sekarang belum juga ada kabar keterima.” Sebenarnya aku sedikit prihatin dengan sepupuku yang sekolahnya gak kemalang tanggung, lulusan Yogya itu. Apa boleh buat lowongan kerja tak tersedia untuknya.
 “Sarjana mana yang kamu maksud, kalau anak pak kades beda cerita. lulus kuliah langsung dapat kerja di kantor desa.” Timpal ibunya.
  “Itukan beda, ibu. Beda rahimkan beda produk, otomatis beda-beda rezekinya. Kalau saja Pardi lahir dari rahim Ibu Tiwi, mungkin sekarang udah kerja di kantor desa, kayak si Evan.”
 “Hes, jangan sembarangan. Emang kamu kira anak Pak kades dapat kerjaan karena bapaknya!” Bidik ibunya dengan kata terakhir putra semata wayangnya itu.
 “Modelnyakan kayak masuk rumah. Kalau yang punya rumah bapaknya sendiri, ya gak bakalan jadi sulit buk.”
 “Gak boleh prasangka buruk. Itu kelebihan orang pintar nak, apa-apa jadi mudah. Lagian gak salah mempermudah anaknya. Lah wong anaknya pintar, buktinya udah dapat ijazah.” Nasehat ibu, meskipun terkesan menyindir bagiku.
 “Iya-iya buk, Sonang bakal kuliah. Supaya gampang dapat kerjaan.”
 “Ibu gak maksa keburu kuliah, tapi pepatah bilang lebih cepat lebih bagus.”
 “Dapat dari mana pepatah itu buk? Jangan-jangan ngambil slogan di baleho pinggir jalan itu ya?”
 “Sonto loyo, emang cuma parpol bisa berkata bijak. Ibukmu ini dulu gak pernah dapat nilai jelek saat pelajaran Bahasa Indonesia.”
 “Terserah ibu dah. Kata-kata bijak sama urusan parpol, yang jelas bukan urusan kita. Sekarang yang terpenting mengenai orang dalamnya buk! Harus dipersiapkan. Takutnya pulang-pulang bingung nyari kerjaan.”
 “Gak usah repot, Pardi sekarang udah keterima juga di Kantor Desa. Dia kan sepupunya kamu. Tinggal deketin aja, siapa tau empat tahun lagi bakalan jadi kepala Desa.” Usul ibunya sembari menyambar perabot makan.
 Siang itu kami berempat makan dengan khidmat. Sambal pete, acar timun, dan lele bakar menghias isi piring. Si Ainun-adikku-seperti biasa makan dengan porsi paling sedikit. Wajar saja, selain perempuan ia juga delapan tahun lebih muda dariku. Seringkali jatahnya masuk ke piringku. Sekarang agak berbeda entah membujuk atau bagaimana! Agaknya menu makanan sebegitu banyak, dikhususkan padaku,
***
 Suatu pagi, kusempatkan bertamu ke rumah Pardi, kebetulan letaknya lumayan dekat. Dalam perjalanan terlintas di pikiranku, enaknya kerja kantoran, selain pekerjaan gak berat-berat amat juga ada hari libur dikhususkan untuk berehat.
Yang terakhir juga alasanku berkunjung kerumah Pardi, karena hari minggu paling memungkinkan ia berada dirumah.
 “Gimana kabarnya bang?” Sapaku setelah diperkenankan masuk dan disodorkan teh panas, lengkap dengan kue bolu. Agaknya baru saja diangkat dari oven.
 “Baik-baik aja Nang. Tumben pagi-pagi kesini?” Susulnya sambil mempersilahkan mengudap hidangan.
 “Begini bang, sudah dua-tiga hari ini ibuk mendesakku untuk lanjut kuliah. Tapi belum juga terjawab, soalnya bingung mau lanjut kemana.”
 “Bagus itu. Jarang-jarang orang kampung kayak kita begini mau kuliah.”
 Ku anggukkan kepala sambil menyeruput teh. Menunggu saran lanjutan dari Bang Pardi.
 “Lingkungan itu berpengaruh juga Nang.” Tukasnya dengan tangan mengelap bibirnya dari ampas kopi.
 Paham dengan bahasa keningku tiba-tiba mengerut, mendengar kata terakhirnya. “Iya, sudah saya rasakan sendiri. Di Yogya budaya membaca dan berdiskusi lazim bagi mahasiswa. Jadi mereka yang bergelut dengan buku-buku biasanya lebih luas wawasan-nya.”
 “Buku paket kayak SMA itu kan bang, kalau gitu sih gak bakal masalah.” Susulku saat terbayang tumpukan buku pelajaran dan seorang guru bersama murid-muridnya membahas isi buku, layaknya rutinitas di kelas SMA dulu.
 “Beda. Yang satu ini diskusinya menarik,buku-bukunya gak pernah jadi bahan mata pelajaran di kelasmu.” Seraya membenarkan posisi duduknya.
 “Bedanya gimana bang?”
 “Diskusinya bukan dikelas, tapi di warung kopi. Semua peserta wajib bicara dan harus sama rata.” Ujarnya lebih bersemangat dengan sedikit penekanan dikalimat terakhir.
 Aku semakin tidak paham, Bang Pardi juga menjelaskan ke ampuhan buku-buku itu. Mulai dari riwayat heroik para penulis-saking hebatnya ia berbicara-aku hanya mengangguk, sampai pengaruh pemikiran para tokoh itu menjadi buku.
 “Desa kita adalah bagian dari negara. Negara tanpa orang pinggiran seperti kita-kita ini juga bukan apa-apa.”
 “Kita harus mandiri! Dek. Tugas aparat Desa bukan cuman meminta dana, setelah proposal cair, habis perkara!” Terusnya. Masih dengan nada semangat. Mendengarnya saja teringat orang nomor satu pertama kali di Negaraku, konon jika berpidato suaranya mengelegar sampai darah pun mendidih.
 “Selesai kuliah langsung kerja, itu memang bagus! Lebih bagus kerjanya demi kebaikan orang banyak.”
 “Niatnya sih, penting kerja bang! Dapat gajih cukup, yang penting gak ke sawah dah pokoknya.” Timpalku jujur.
 “Menuntut ilmu itu penting juga, lebih penting lagi ilmu yang bermanfaat.” Dengan nada halus menasehati, layaknya bapak terhadap anaknya.
 “Itu kak! Kata terakhirnya dan yang paling aku ingat. Kata-kata dari seorang manusia yang mengajak kita menjadi manusia.” Ujarku sambil terduduk lemah di hadapan Jenazah Bang Pardi.
 Kurang lebih seminggu belakang ia menderita penyakit yang entah apa namanya. Keluar masuk rumah sakit, tabib, bahkan orang pintar paling jago sekalipun. Ada yang bilang paru-paru basah, dari orang pintar bilangnya terkena guna-guna, ada juga yang bilang itu memang sudah waktunya. Pendapat mereka beragam, mungkin sesuai profesi masing-masing. Sepertinya mereka semua menginginkan kami-para keluarga-membenarkan pendapat mereka.
 Apapun pendapat Paranormal, Dokter, dan seluruh warga desa, terserah mereka. Sebisa mungkin bagiku untuk Bang Pardi adalah do’a terbaik, atas perjuangan kemanusiaannya. Hadirnya Bang Pardi sebagai lulusan Pesantren menyadarkan masyarakat akan pentingnya beragama. Tidak hanya itu, sebagai mahasiswa lulusan Yogyakarta, ia juga berkecimpung didunia perpolitikan. Sebelum bahkan setelah menjabat sebagai Kepala desa.
 Sebenarnya ada pesan terakhir yang sengaja kusimpan dari Bang Pardi. Pesan beliau sebulan sebelum hari ini. “Mungkin keputusanku menjabat Kepala Desa terlalu terburu-buru. Meskipun Sebenarnya posisi itu kurencanakan setelah kamu lulus Nang, tapi peluangnya terbuka lebih dulu. Evan Kepala Desa sebelumnya, dua tahun setelah kamu di Yogya, tiba-tiba mengundurkan diri, alasanya gak jelas. Hahaha, apalah daya Kepala Desa yang kurang dari satu tahun ini. Jika ada apa-apa nanti denganku, tanyakan saja padanya. Mungkin dia lebih tahu.


Penulis : Alghajali | Editor: Weliya Alfin R. K

Posting Komentar

0 Komentar