Kisah Pilu Sebuah Perjuangan





Tentang sebuah nilai juang
Saat langit terang bagai gelap menyelimuti mentari
dan kupu-kupu enggan beterbangan di indahnya anggrek dan melati
Kilauan pedang sebagai penuai janji peperangan
menciptakan tubuh hancur bagai serpihan
darah-darahnya menjiprat membunuh hati mereka yang berdiri
Tapi ketahuilah, tak ada kisah di lembar daun lontar tertoreh bendera penyerahan
bahkan mata buta, kaki dan tangan hilang, cinta mati terhunus pedang
teriakan kemerdekaan menggema bagai takbir menyongsong hari kebanggaan
menghancurkan belaian suara jangkrik dan serangga di pekatnya malam
mengundang burung bernyanyi lagu kesedihan
dan tak terhitung ombak berdo’a di teriaknya gelombang
Namun apalah arti, negriku menyiakan perjuangan
Ketika gemeretak tanah dan bombardir membisu
kilauan pedang menyala haus akan darah terbenglala
Pemiliknya malah menghancurkan negrinya
menelan mentah daging busuk
menjadi para penjilat yang tamak
menelantarkan mereka beratapkan mentari dan rembulan
perut-perut bergetar, anak-anak kehausan
Sesepuh merenung di pojokan jalan memikirkan nasib bumi ini.meratapi bintang di taburan langit semakin lusuh
mereka hanya membisu
Kau leburkan negriku dengan pengkhianatan
kau taburi tanahnya dengan biji kemunafikan
hingga menjalar memenuhi rongga yang kau ciptakan
Apa makna Budi Soekarno untukmu?
Dengan darah, sang merah putih dikibarkan
bayinya berteriak akan takdir pilu
aroma para mujahid menusuk semerbak mengharukan
negriku hancur oleh siasat perang
Sedangkan mereka mengeja dan menulis di istana berlian
setiap sajaknya mencampakkan jalan-jalan yang pernah ditempuh
menginjak dan membantai dengan kegilaan
Dalam haus dan lapar ingin menyeringai setiap senti sesak dan semu yang meruang
adalah derita menjadi sekuntum mawar senyuman
Namun durinya diam-diam akan menusuk
bukan sekarang, mungkin kelak nantinya
Hei! Apakah kau akan menunggu
menanti Imam Mahdi datang menghancurkan kebatilan
dan Nabi Isa membabat tiap cerca kebusukan
menyiakan kisah pilu sebuah perjuangan
membiarkan sang merah putih berkibar di tangan kemunafikanHarusnya tarian warna kebanggaan menumbuhkan tunas semangat pergerakan.
memberikan arti akan darah dan daging yang tercecer
melanjutkan juang sisa puing yang terjang
Bukan sekadar mengenang mereka di hari kebangkitan
Menyemarakkan setiap tetes perjuangan dengan melodi dan tinta-tinta emas di pembatas negri
Namun, mengepalkan tangan melanjutkan sisa juang
Membinasakan kebatilan hingga hancur dan terkepung
Salam nilai juang

Penulis : Irma Sari Fadillah. Nst

Posting Komentar

0 Komentar