Negara tidak sanggup memberi solusi bagi problem ekologi

 

Interaksi antara manusia dengan lingkungan sangat sulit untuk dituntaskan di banyak kota besar yang ada di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Para pemimpin negeri dan politisi seharusnya bisa menyelesaikan hal ini dalam beberapa generasi, tapi faktanya hanyalah janji manis yang didapatkan masyarakat jelata.

 

Para pemodal lebih bersemangat untuk mengalirkan pelumas politik ketimbang pembagunan sinergi ekologis. Politik identitas lalu memperparah semuanya; ada pembelaan yang tak sesuai dengan fakta, dan ada penyerangan berbumbu stigma. Politik akhirnya tergiring dalam disparitas elektoral dan perang opini di berbagai media.

 

Kalimantan Barat adalah contoh bagaimana situasi politik mengalami kegagalan, pembagunan yang lebih mementingkan visual ternyata tidak menyelesaikan kebutuhan sosial. Banjir adalah persoalan lingkungan, dan dunia politik adalah pembuat kebijakan yang seharusnya menyelesaikannya.

 

Lombok mengalami hal yang sama, seperti banjir yang melanda disebabkan pembagunan jalan dari Sirkuit mandalika menuju ke bandara internasional. Pemerintahan dulunya mengaktakan bahwa tidak akan berdampak terhadap tumbuhan dan bencana alam, seperti banjir longsor dan lain sebagainya.

 

Tapi hari ini fakta yang terjadi banjir yang melanda perkampungan warga di sebabkan adanya pembagunan jalan tersebut.  Sehingga masyarakat hari ini membongkar pembagunan jembatan yang sudah siap di gunakan.

 

Pemerintah lebih asyik mengkoar-koar pembagunan harus segera selesai, tanpa melihat dampak yang terjadi di masyarakat dan ekologi di sekitarnya. Ini menggambarkan bahwa politik hari ini sudah kehilangan fungsinya dan yang terjadi hari ini adalah pertempuran retorika setiap kali banjir melanda. Politik di negara kita terlalu disibukkan oleh gengsinya; bukannya menyelesaikan semua problematik, tapi kultur politik yang dipaksa tidak pernah dewasa.

 

Kampanye politik terbaik bukanlah kohesi kepentingan penguasa, akan tetapi program kesejahteraan yang dibutuhkan masyarakat. Kata George Herbert Mead, ketika rakyat telah disejahterakan, tanpa perlu dibujuk mereka pasti menjadi kekuatan elektoral yang solid untuk membangun sebuah bangsa.

 

Di tengah sirkulasi ekologi yang semangkin berantakan, daerah yang terdampak bencana alam seharunya dapat segera diselesaikan. Artinya pemerintah harus lebih mementingkan kesejahteraan masyarakat baik dari segi lingkungan, peraturan, dan ekonomi. Ketimbang membangun sirkuit dan bangunan megah lainnya yang indah secara visual saja, tapi menjadi sempit bagi beberapa kalangan masyarakat terdampak bencana.

 

Jika peran empati pemerintah masih sekedar wacana saja, tidak mustahil beberapa daerah seperti, Kalimantan, Lombok, Probolinggo, dan Lumajang akan tenggelam. Maka seharunya negara dapat membaca hal yang terjadi di lingkungan masyarakat, agar tidak terjadi bencana. Masyarakat akan bahagia jika kehidupan mereka di jauhi dari bencana alam, dan segi ekonomi mereka sesuai dengan yang di kerjakan.



Penulis : King Gong | Editor : Ivan Kharisma

Posting Komentar

0 Komentar