Pesantren Menatap Masa Depan


Istilah “pesantren” berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata santri berarti murid dalam bahasa Jawa. Istilah “pondok” berasal dari bahasa Arab “funduuq” (فندوق) yang berarti penginapan. Menurut KH. Imam Zarkasyi dalam jurnal “Sistem Pendidikan Pesantren dan Tantangan Modernitas ”, pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok dimana kyai merupakan sosok sentralnya, masjid merupakan sentral kegiatan, dan ajaran Islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri merupakan kegiatan utamanya.

Pada awal perkembangannya, pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama yang menjadikan kitab kuning sebagai rujukan utamanya. Kitab kuning merupakan karya intelektual muslim abad pertengahan yang amat bernilai harganya bagi pesantren. Disebut demikian karena memang mayoritas dicetak pada lembaran-lembaran kertas yang berwarna kuning, walaupun sekarang sudah banyak yang dicetak dalam ketas berwarna putih. Disamping mengajarkan ilmu-ilmu agama, pesantren juga mengajarkan beberapa keahlian yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari seperti bertani dan berdagang.

Pada abad ke-21 tantangan pesantren menjadi berbeda tatkala bangsa-bangsa di dunia berlomba-lomba mengembangkan berbagai teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan tersebut benar-benar telah memangkas jarak dan waktu antar penduduk dunia, sehingga banyak orang dari berbagai penjuru dunia dapat berinteraksi dan bersaing dalam berbagai sektor. Sebagai konsekuensi logisnya, persaingan menjadi semakin tajam dan berat. Contoh dalam bidang ekonomi, pedagang kaki lima dengan modal yang minim harus berhadapan dengan kekuatan raksasa perusahaan asing. Tantangan lainnya adalah masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti cara berpakaian, cara bergaul dengan orang lain, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi ancaman serius bagi generasi muda kita.

Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan seperti telah disebutkan diatas, pesantren melakukan berbagai pembaruan dalam sistem pendidikannya agar tidak tergilas oleh zaman. Bila tetap bertahan dengan sistem pendidikannya yang lama para santrinya akan menjadi kaum yang terbelakang dan kolot. Diantara pembaruan yang dilakukan adalah dengan mendirikan lembaga pendidikan formal seperti SMP, SMK, dan universitas. 
Pelajaran yang relevan dengan zaman diajarkan didalamnya, seperti fisika, kimia, teknologi, bahasa asing dan lain-lain. Bahkan pada tingkat universitas ilmu-ilmu seperti filsafat, politik, ekonomi dan kedokteran turut dihadirkan. Bahkan bukan hal yang aneh bila pesantren juga memiliki lembaga kursus seperti kursus perbengkelan dan kursus menjahit. Kitapun menyaksikan pesantren berkiprah dalam bidang ekonomi. Kita ambil contoh Pesantren Sidogiri dengan toko “Basmalah”nya yang saat ini kian menjamur di berbagai penjuru negeri. Semua itu dilakukan dengan tujuan menjawab tantangan zaman, sehingga diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki pengalaman dan daya saing secara global.

Dalam memodernisasi sistem pendidikannya, pesantren mampu membentengi para santri agar tidak terpengaruh oleh globalisai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pesantren tetap dengan jati dirinya yang mengedepankan akhlaq mulia. Konsep ini dikalangan pesantren dikenal dengan “al-muhafadzotu alal qhodimish sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” yakni tetap menjaga tradisi lama yang baik dan juga mengambil tradisi baru yang lebih baik. Disamping mengadopsi berbagai pembaruan yang mayoritas berasal dari barat, pengajaran klasik kitab kuning serta berbagai disiplin ilmu keagamaan lainnya tetap dipertahankan. Hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga nilai-nilai luhur pesantren.

Dalam menatap masa depannya pesantren telah melakukan langkah yang tepat, mengingat hari ini banyak orang yang berpengetahuan tinggi namun memprihatinkan dalam segi keluhuran prilakunya, sehingga kemampuannya digunakan untuk menindas orang lain. Disisi lain juga banyak orang yang berbudi luhur namun tidak memiliki kemampuan berjuang dalam skala yang lebih besar karena memang tidak memiliki kemampuan dibidang-bidang itu. Dengan pembaruan sistem pendidikan seperti telah disebutkan diatas, pesantren diharapkan mampu mencetak manusia yang memiliki daya saing secara iptek tanpa tercerabut dari nilai-nilai luhurnya. Sekali lagi pesantren membuktikan dirinya mampu bertahan dalam segala tantangan zaman.

Penulis: Febi Febrianto | Editor : Fahri Al-khozaini

Posting Komentar

0 Komentar