Nasib Kesusastraan Pesantren

Tentunya, kita tidak asing dengan nama Pondok Pesantren yakni salah satu lembaga pendidikan berbasis Islam yang ada di Indonesia. Karya-karya sastra sangat melekat pada lembaga jenis ini, namun sastra pesantren pada umumnya sedikit berbeda dengan karya-karya sastra lainnya. Sastra yang ada di pesantren biasanya sarat dengan makna ke-islaman atau nilai-nilai norma bahkan sosial.

Nadzhoman, pegon, hikayat, kitab kuning, prosa, itu merupakan karya-karya yang berhasil di hasilkan oleh orang-orang pesantren. Namun bagaimana nasib kesusastraan pesantren saat ini? Apakah berhasil mempertahankan nilai-nilai yang ada ataukah telah mengalami perubahan? Mari kita bahas hal tersebut.

Kesusastraan sendiri dalam KBBI adalah ilmu atau pengetahuan tentang segala hal yang bertalian dengan susastra, susastra sendiri merupakan karya sastra yang ditimba dari kehidupan kemudian disusun dengan bahasa indah sebagai sarananya sehingga mencapai syarat estetika yang tinggi. Karya sastra biasanya digunakan untuk kegiatan pengajaran disuatu lembaga.

Dalam buku Pesantren Studies karya Ahmad Baso, menyatakan pesantren bukan hanya tempat proses belajar mengajar, murid-guru, santri-kiyai, tapi juga tempat persemaian tradisi kesusastraan, lembaga kehidupan dan kebudayaan. Nilai historis sastra pesantren dimulai sejak zaman Wali Songo hingga santri-kiyai saat ini.

Wali Songo dalam menyiarkan islam juga menggunakan karya-karya sastra seperti syiir, hikayat, babad dan banyak lagi. Salah satu karya yang di hasilkan oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim yaitu Tembang Suluk dan Gundul-gundul pacul yang mana karya-karya tersebut sarat akan makna ke-islaman. Bisa dikatakan hal tersebut merupakan cikal bakal karya sastra pesantren generasi setelahnya.

Telah banyak karya-karya sastra pesantren yang ditulis oleh kiyai dan santri. Salah satu kiyai yang sekaligus sebagai sosok penyair asal Madura yakni K.H. Zawawi Imron, Ia mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak temu penyair 10 kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta tahun 1982. Sejak tamat sekolah di Sekolah Rakyat, dia melanjutkan di PP.Lambicabbi, Gapura, Sumenep. Banyak karya-karyanya yang telah dibukukan. Ini juga merupakan bukti bahwa pesantren juga tempat persemaian tradisi kesusastraan. Serta masih banyak lagi tokoh-tokoh dari pesantren yang berhasil membumikan karya-karyanya.

Di dalam pondok pesantren sendiri telah ada beberapa organisasi yang di bentuk untuk menampung santri-santri yang menyukai dan ingin mendalami ilmu kesusastraan, tentunya bukan hanya sastra Arab tapi juga sastra Indonesia. Seperti misalnya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Alfatihah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) dan juga ada di Pondok Pesantren Nurul Jadid seperti Sastra Titik Koma, UKM Kala, AMOEBA, GASBUMI (Gerakan Apresiasi Seni Budaya Islami).

Adanya komunitas-komunitas sastra dipesantren ini merupakan upaya kalangan santri untuk menampung santri-santri yang ingin bergulat dalam dunia sastra, kendatipun tak lepas dari nilai-nilai islami atau kepesantrenan.

Menurut Kiyai Ulil Abshar Abdallah, yang disampaikan pada acara Muktamar Sastra pertama “Semua karya sastra yang memuat nilai kepesantrenan, mengenalkan Islam Nusantara, cinta tanah air, serta ilmu pengetahuan dapat dikatagorikan sebagai sastra pesantren. Meskipun yang menulis bukan seorang santri yang sedang ada dipesantren.” Jadi ditulis oleh santri ataupun bukan dapat dikatakan sastra pesantren, selama karya tersebut mengandung nilai-nilai kepesantrenan dan kajian-kajian ilmu.

Dalam beberapa tulisan, penulis sempat melahap karya sastra hasil dari orang-orang pesantren pada majalah dan koran yang ada di pensantren saat ini, disana memuat karya seperti puisi dan cerpen. Karya-karya tersebut penulis rasa sudah mulai terkontaminasi dan tak lagi menampilkan khasnya. Produk sastra pesantren saat ini contohnya membawakan tema romansa pesantren. Sedikit cinta-cintaan gitu dan terkadang jauh untuk bisa dikatakan sastra pesantren.

Namun ada juga penulis asal pesantren yang berhasil membawakan kisah romansa yang diselimuti oleh nilai ke-islaman seperti novelis Habiburrahman El Shirazi dengan beberapa karyanya: Ayat-ayat Cinta, Api Tauhid, Bumi Cinta, dll.

Pada saat ini adalah waktunya orang-orang pesantren mampu untuk menampilkan wajah kesusastraannya dalam kancah nasional dan mampu berdampingan dengan sastra-sastra masa kini dengan kemasan yang menarik dan unik. Tentunya dengan warna-warni kehidupan dan rasa ke-islaman yang begitu damai dan menyejukkan. Ruh sastra pesantren sendiri juga perlu dikembalikan.

Jadi marilah kita khususnya orang-orang pesantren yang mungkin bergelut di dunia sastra coba hadirkan kembali tulisan-tulisan sastra pesantren yang sarat oleh makna serta nilai-nilai keilmuan dengan cara terus berlatih dan berkarya. Jangan cuma karya yang romansa terus dan hanya tahu cinta-cintaan, namun dengan karya khas pesantren sebagaimana mestinya.

Penulis : Weliya Alfin Roberth K. | Editor : Rohiqi Rohman

Posting Komentar

0 Komentar