Melihat dari kasus ditangkapnya 25 warga yang menolak proyek waduk wadas untuk memperjuangkan haknya, PMII Komisariat Universitas Nurul Jadid mengadakan acara Istighasah bersama, dalam rangka mendoakan warga Wadas Jawa Tengah, Selasa (8/02/2022).
Kegiatan istighasah tersebut dilaksanakan ba’da Isya’ yang bertempat di POMAS, dan diikuti oleh seluruh kader PMII Universitas Nurul Jadid. Semua rayon ikut serta dalam kegiatan tersebut; seperti Rayon Nusantara, Rayon Al-Wahid, Asghar Ali Enggineer, Ibnu Khaldun, Ibnu Firnas, dan Avicenna.
Badrul Hisyam sebagai ketua komisariat Universitas Nurul Jadid mengatakan bahwasannya melihat dari kasus perampasan, sahabat-sahabat PMII Universitas Nurul Jadid harus memberikan dukungan do’a terhadap kawan-kawan kita yang sedang memperjuangkan hak-haknya di Wadas Jawa tengah. “Sesuai dengan nilai dasar pergerakan PMII, kita perlu menerapkan habluminannas, dan hablumminallah. Karena sebenarnya NU mengharamkan perampasan hak-hak tanah warga. Oleh karena itu kita mencoba menyambung do’a sebagai bentuk solidaritas kita” ungkapnya.
Karena adanya proyek tersebut, tanah warga dirampas dan dialih fungsikan untuk dijadikan bendungan proyek nasional. “Sebetulnya warga disana banyak yang menolak proyek tersebut dikarenakan mayoritas warga disana bekerja sebagai petani. Jikalau tanahnya diambil lantas mereka mau bekerja apa. Kemarin-kemarinya juga ada beberapa penangkapan beberapa warga karena menolak keras dengan pengukuran tanah untuk dijadikan proyek nasional tersebut. Saya berharap agar saudara-saudara di Wadas tetap semangat memperjuangkan hak-haknya, tetap tumbuh rasa perjuangan, agar tanahnya itu tidak diambil oleh pemerintah” lanjutnya.
Ketua Rayon Ibnu Firnas, Ibrahim La Haris juga turut serta mengikuti kegiatan tersebut. Dia mengatakan bahwasannya, alasan mengikuti acara tersebut karena melihat posisi sebagai santri. Selain itu, pendiri pondok pesantren Nurul Jadid KH. Zaini Mun’im pernah berdawuh,” saya tidak rela apabila santri saya tidak berjuang di masyarakat." Hal itu yang menjadi landasannya mengikuti kegiatan Istighosah tersebut. “Meskipun saya tidak secara langsung turun kelapangan untuk membantu, setidaknya posisi kita sebagai santri harus ikut mendo’akan. Kita bergerak melalui gerakan spiritual, bisa dikatan gerak bathin. Dengan harapan problem disana, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada mereka. Seperti kita lihat pada revolusi jihad, di Surabaya. Pada saat itu tadak semua orang turun, ada juga para kyai dan santri mendo’akan dari belakang. Kita lihat dari sana bagaimana santri-santri berjuang. Mejadi seorang santri juga merupakan tugas yang mulia meskipun kita tidak ikut andil ke lapangan."
Ujarnya lagi kita sebagai warga pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII), kita ketahui di nilai dasar pergerakan (NDP), ada Hablumminallah, Hablumminannas, dan Hablumminal alam. Di situ sudah dijelaskan sebagaiaman hubungan manusia dengan manusia, maka dari hal itu kita sebagai warga pergerakan itu salah satu tugas dari kita untuk mendo’akan masyarakat yang disana."
Penulis: Habibullah | Editor: Ivan Kharisma
0 Komentar