Menyikapi Konflik di Desa Wadas, PMII UNUJA Menggelar Sholawat dan Diskusi Lintas Rayon

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Nurul Jadid (UNUJA), mengadakan pembacaan Sholawat Asyghil dan Diskusi Lintas Rayon dalam rangka menyikapi konflik yang terjadi di Desa Wadas, yang bertempat di Gedung A UNUJA, dengan mengusung tema “Menyoal Akar Konflik Desa Wadas; Antara Kesejahteraan dan Penindasan,” Kamis (10/02/2022).

Kegiatan tersebut dihadiri seluruh kader PMII se UNUJA mulai dari, Rayon Asghar Ali Engineer, Rayon Al Wahid, Rayon Ibnu Khaldun, Rayon Avicena, Rayon Ibnu Firnas, dan Rayon Nusantara, kurang lebih 70 kader yang mengikuti kegiatan itu. Para kader tampak antusias dari awal hingga akhir acara.

Badrul Nurul Hisyam selaku Ketua Komisariat UNUJA, menyampaikan, bahwa kegiatan sholawat dan diskusi merupakan bentuk solidaritas terhadap saudara yang ada di Desa Wadas yang mengalami tindakan represif oleh aparat kepolisian yang memperjuangkan haknya.

Badrul sapaan akrabnya, menambahkan, kegiatan itu juga membantu perlawanan masyarakat Wadas yang sedang memperjuangkan haknya dalam bentuk doa. “Dilain sisi, juga memberikan pemahaman kepada kader terkait konflik yang ada di Desa Wadas,” ujarnya.

Ia berharap, semoga konflik yang ada di sana cepat meredam, diberikan kekuatan bagi masyarakat Wadas yang sedang berjuang dan kepolisian tidak melakukan tindakan represif.

Di hal yang berbeda, Abdul Razak sebagai narasumber diskusi tersebut, memaparkan, ketika kita berbicara konflik Wadas, sebenarnya juga tidak lepas dari konflik agraria, karena konflik disana tentang lingkungan.

Lebih-lebih, di konflik Wadas perlu dicurigai bahwa ada campur tangan pemerintah pusat, karena waduk Wadas merupakan proyek Nasional. Sehingga membuat proyek tersebut harus dikerjakan.

Di samping itu, juga terjadi tindakan represif polisi ke masyarakat setempat. Namun dari kejadian itu tidak adanya tindak lanjut yang dilakukan kepolisian untuk menangani kejadian tersebut.

“Konflik di Desa Wadas sebenarnya sudah terjadi pada tahun 2013 sejak pembangunan bendungan air. Akan tetapi, yang di permaslahkan oleh masyarakat Wadas bukan pembangunan tersebut melainkan penambangan batu andesit untuk pembangunan meterial bendungan,” pungkasnya biro advokasi PC PMII Probolinggo.


Penulis: Muhammad Fuddin | Editor: Muhammad Iqbal

Posting Komentar

0 Komentar