Contohnya Program Makan Bergizi Gratis
(MBG) menjadi ilustrasi utama dari masalah ini: sebuah kebijakan yang diklaim
berfokus pada pengembangan sumber daya manusia, namun dilaksanakan dengan logika
pengeluaran konsumtif jangka pendek. Tidak dapat disangkal bahwa pemenuhan gizi
berdampak pada kesiapan siswa untuk belajar. Anak-anak dengan asupan yang tidak
mencukupi tentu akan kesulitan berkonsentrasi. Namun, menjadikan MBG sebagai
fokus utama kebijakan pendidikan menunjukkan pandangan yang terlalu
menyederhanakan masalah tersebut.
Pendidikan bukan hanya tentang kondisi fisik
siswa, melainkan sebuah proses panjang yang melibatkan kualitas pengajaran,
relevansi kurikulum, lingkungan belajar, dan kesinambungan kebijakan. Ketika
pemerintah menetapkan MBG sebagai program unggulan pendidikan, hal itu hanya
mengatasi gejala, bukan akar penyebab masalahnya. Inti permasalahan yang
dihadapi MBG berkaitan dengan fokus penganggarannya.
Proyek ini memerlukan
dukungan finansial yang substansial secara berkala, yang membuatnya tergolong
sebagai pengeluaran konsumtif. Walaupun dampaknya dapat segera diamati, sifatnya
tidak berkelanjutan. Hal ini berlawanan dengan investasi dalam sektor
pendidikan, seperti peningkatan kompetensi tenaga pendidik, perbaikan fasilitas
sekolah, atau modifikasi kurikulum; meskipun manfaatnya tidak seketika,
investasi tersebut membangun dasar yang kuat untuk masa depan. Dalam situasi
keterbatasan anggaran, penekanan pada pengeluaran konsumtif secara inheren akan
mengurangi alokasi dana untuk investasi pendidikan yang bersifat strategis.
Pengamat pendidikan Totok Amin Soefijanto memberikan peringatan bahwa kebijakan
pendidikan yang mengandalkan penyelesaian instan berisiko terperangkap dalam
strategi yang bersifat spekulatif. Beliau berpendapat bahwa pendidikan tidak
dapat disederhanakan menjadi satu elemen tunggal. Tatkala pemerintah
meminimalisir kerumitan pendidikan hanya pada faktor nutrisi, maka aspek
pedagogis dan kultural, yang sebenarnya esensial dalam menentukan mutu
pembelajaran, berpotensi diabaikan. Dalam kerangka ini, MBG berpotensi
berkembang menjadi kebijakan utama yang kehilangan esensi makna pendidikan.
Doni
Koesoema juga menyampaikan kritik serupa, yang menekankan bahwa pendidikan
seyogianya dipandang sebagai penanaman modal berjangka panjang. Pengalihan fokus
dan alokasi dana dari perbaikan struktural ke program yang bersifat konsumtif
mengindikasikan ketidakmampuan dalam memahami esensi pendidikan. Pendidikan
tidak beroperasi dengan logika instan; ia memerlukan konsistensi temporal dan
keberanian untuk menginvestasikan sumber daya pada aspek-aspek yang manfaatnya
tidak langsung tampak
Selain masalah orientasi, MBG juga menimbulkan tantangan
dalam implementasinya. Program konsumsi berskala nasional memiliki potensi
masalah terkait akurasi sasaran, variasi kualitas layanan, dan peningkatan beban
administrasi bagi institusi pendidikan. Dalam kondisi tertentu, sekolah berisiko
beralih fungsi menjadi pusat distribusi logistik, sementara pendidik dipaksa
menangani urusan non-pedagogis. Situasi ini secara implisit mengalihkan fokus
utama dari tujuan pendidikan itu sendiri. Dari sudut pandang ekonomi pendidikan,
Prof. Agus Sartono
"menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh dimaknai sebagai pemotongan
tanpa arah. Belanja negara harus dinilai dari dampak jangka panjangnya.
Investasi pada kualitas guru, sistem pembelajaran, dan lingkungan pendidikan
memberikan keuntungan sosial yang jauh lebih berkelanjutan dibandingkan
belanja konsumtif yang cepat habis manfaatnya. Negara yang serius membangun manusia semestinya menempatkan investasi pendidikan
substantif sebagai prioritas utama."
Di sinilah letak tragedi logika anggaran
tersebut. MBG dipresentasikan sebagai strategi pembangunan masa depan, tetapi
dijalankan dengan pola konsumsi hari ini. Negara tampak fokus memastikan peserta
didik tidak lapar di ruang kelas, tetapi kurang memberi perhatian yang sama
besar pada kualitas berpikir, kemampuan literasi, dan daya kritis mereka.
Padahal, tanpa pembelajaran yang bermutu, pemenuhan gizi saja tidak cukup untuk
membentukan generasi yang kompetitif. Seandainya MBG tetap dijalankan, program ini
semestinya ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pusat kebijakan pendidikan.
MBG
perlu diintegrasikan dengan agenda reformasi pendidikan yang lebih mendasar,
seperti peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, penguatan kurikulum,
serta pemerataan kualitas pendidikan antar daerah. Tanpa integrasi tersebut, MBG
berpotensi menjadi simbol keberpihakan yang mahal secara anggaran, tetapi
terbatas secara dampak.
Pada akhirnya, perdebatan tentang MBG bukan sekadar soal pro dan kontra terhadap
satu program. Yang lebih mendasar adalah soal arah kebijakan anggaran negara.
Apakah anggaran pendidikan akan difokuskan untuk membangun kapasitas intelektual
generasi masa depan, atau terus terjebak pada kebijakan instan yang
menguntungkan secara politis tetapi rapuh secara strategis.Tragedi logika
anggaran ini patut menjadi refleksi bersama. Sebab ketika investasi jangka
panjang terus dikalahkan oleh konsumsi sesaat, yang sesungguhnya dipertaruhkan
bukan hanya efektivitas kebijakan, melainkan masa depan bangsa itu sendiri.
Penulis : Faiz Masruri
Editor : Pengurus Rayon Asghar

0 Komentar